| Martha Thie | ||
|---|---|---|
| 4Life ID# : 6690457 |
||
| Mobile : 03170505388, 0811315327 | ||
| Email : marthathie@gmail.com | ||
| Web : http://www.4lifetfindonesia.com/ | ||
Apa itu Transfer Factor ?
Transfer Factor adalah penemuan il- miah yang menggembirakan pada dekade ini. Transfer Factor adalah molekul-molekul kecil pembawa pe- san imun yang diproduksi organisme tingkat tinggi. Peranan TF ada- lah untuk mengirim tanda pengenal imun antara sel-sel NK (Natural Kil- ler) dan kemudian mendidik sel-sel NK yang masih lugu untuk mengenali bahaya dari musuh-musuhnya (kuman-kuman).
Di lingkungan yang "keras" dan "bermusuhan'" seorang bayi yang masih lemah dan sendirian, diserang mikroorganisme penganggu dengan cepat dan menghancurkan kehidupannya. Alam telah menyediakan sistem imun lugu yang bisa belajar dengan cepat. Saat melahirkan ba- yi, ibunya telah menyiapkan imu- nisasi alami yang canggih untuk bayinya yang ada dalam susu awal yang diproduksinya. Transfer Factor adalah kunci utama pada proses ini. Molekul-molekul TF yang sa- ngat kecil ini mengandung inti dari pembawa pesan imun.
Transfer Factor tidak menimbulkan alergi dan tidak hanya untuk spesies tertentu. Maksud- nya, TF yang diproduksi dari susu kolostrum sapi juga efektif untuk manusia, juga untuk sapi-sapi/ makhluk-makhluk yang lainnya. Kemampuan yang menggembira- kan ini bisa menjadi titik awal revolusi di dunia pengobatan dan telah dikemukakan dalam pernya- taan berikut ini:
"Transfer Factor punya peranan penting dalam dunia pengobatan, bisa membantu pengobatan mulai dari AIDS sampai virus Ebola, atau dari kuman-kuman baru maupun lama seperti kuman TBC."
Fungsi Transfer Factor
Transfer Factor mempunyai tiga fungsi utama yaitu:
Sejarah Penemuan Transfer Factor
Pada tahun 1949, Dr. H. Sherwood Lawrence, saat meneliti penyakit TBC (Tuberculosis) telah menemukan "molekul informasi" yang terkandung dalam sel darah putih manusia (sis- tem imunnya). Beliau menemukan bahwa molekul itu bisa dipindahkan dari satu orang ke orang yang lain (yang bisa memberikan kepada penerimanya, \'kekebalan\' dari penyakit TBC). Beliau menamakan molekul itu "Transfer Factor" (TF). Penelitian lebih lanjut menemukan bahwa TF juga terdapat di dalam kolostrum (susu awal) sapi dan kuning telur ayam. Mengapa kolostrum sapi? Itu karena sapi bisa menghasilkan susu yang banyak pada awal menyusui. Walaupun TF ini terbuat dari kolos-trum sapi, tapi ia tidak mengandung susu sapi, ia juga tidak mengandung kasein dan imuno-globulin yang bisa menimbulkan alergi. Jika dibandingkan, kalau kita mengonsumsi 45.000 mg kolostrum sebanding dengan hanya mengonsumsi 600 mg TF.
Selama 50 tahun setelah penemuan itu, banyak para ilmuwan dan dokter yang melakukan pene- litian tentang TF itu. Lebih dari 3.500 laporan ilmiah telah diter- bitkan dengan pengeluaran lebih dari US$ 40 juta untuk penelitian-penelitian itu. Pada tahun 1989, Dr. Gary Wilson dan Dr. Greg Paddock telah berhasil men- ciptakan teknologi untuk memisahkan TF dari kolostrum susu lembu. Melalui teknik pemisahan ini, TF tulen dapat dikumpulkan, dikeringkan dan dijadikan kapsul untuk kegunaan manusia. Pada tahun 2002, proses pengekstrakan TF dari kolostrum sapi dan kuning telur ayam telah dipatenkan oleh perusahaan 4Life Research dan produk-produknya telah digunakan di 60 negara di dunia.
Pada penderita kanker, TF mampu meningkatkan fungsi sel-sel NK yang berperan memerangi sel-sel kanker. Dr. Darryl See, seorang peneliti dari University of California dan pakar kesehatan dunia dari WHO, meng- ungkapkan hasil penelitiannya terha- dap 20 pasien pengindap kanker sta- dium 3 dan 4, menunjukkan 16 pa- sien mengalami pemulihan dan dalam kondisi stabil setelah menjalani terapi TF ini.
Pembuktian keampuhan TF juga dilakukan di Rusia lewat serangkaian riset yang terkait dengan penyakit infeksi HIV, hepatitis B, hepatitis C, herpes, kanker lambung, 5 clamidiosis urogenital,osteomyelitis, opisthorchiasis, psoriasis, dermatitis atopik dan busuk usus besar, dengan hasil riset yang sangat menggembirakan.
Untuk di Indonesia, sudah ada cukup banyak juga dokter yang menggunakan terapi TF ini. Beberapa yang penulis ketahui sudah meng- gunakan produk-produk TF ini, anta- ra lain di Semarang, Dr. Amanullah, seorang ahli bedah, dan Prof. Dr. Edi Darmana, MSc., Phd, seorang ahli imunologi dan parasitologi dari Un- dip. Terapi TF ini pun bisa dilakukan orang awam, karena produknya benar-benar aman tanpa efek sampingan. Biasanya yang sering timbul adalah apa yang disebut healing crisis (proses penyembuhan), karena tubuh sedang menyesuaikan diri untuk kesem- buhan dari penyakit yang diderita. Dari penelitian sejauh ini tidak ada efek negatif dari penggunaan terapi TF. Demikian pula kendala dalam perolehan bahan baku ko- lostrum juga tidak ada, karena produknya diambil dari susu sapi yang melimpah jumlahnya dan se- muanya itu diproses di Amerika, sehingga produk TF yang dihasil- kan sudah dalam bentuk jadi, yaitu berbentuk kapsul, tablet ku- nyah, atau serbuk/bubuk yang siap dikonsumsi siapa saja mulai dari bayi baru lahir sampai orang tua, sepanjang orang itu tidak punya masalah dengan cangkok organ tu- buh. Khusus bagi orang yang telah ada kasus cangkok organ tubuh sangat dianjurkan untuk tidak me- ngkonsumsinya, alasannya karena organ tubuh yang dicangkokkan itu tidak sama sel-selnya dengan sel-sel tubuhnya. Jika dikonsumsi maka akan dikira musuh dan akan diserang oleh sel-sel NK-nya sen- diri.